Ditjen PAUD-DIKMAS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini
dan Pendidikan Masyarakat

PKBM Putra Bangsa - Cetak Seribu Barista

PKBM Putra Bangsa - Cetak Seribu Barista

11 Desember 2018 07:54:02

Seiring berkembangnya industri kopi di Tanah Air. Saat ini, kedai kopi semakin menjamur di Indonesia, dari pelosok kota hingga perdesaan sering dijumpai kedai kopi. Seiring dengan pertumbuhan tersebut, profesi seorang barista terbilang menjanjikan. Sehingga menjamur lembaga pendidikan barista dengan biaya yang sangat mahal. Namun, di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Putra Bangsa, Pemalang, Provinsi Jawa Tengah, diberikan pendidikan pelatihan barista secara gratis.

Menurut Tuslihah, pendiri dan pengelola PKBM Putra Bangsa, bahwa kegiatan PKBM yang dikelolanya tetap fokus pada pendidikan nonformal dalam rangka penuntasan buta aksara dan pelatihan keterampilan peserta didik. Namun seiring dengan semakin menjamurnya kedai kopi di Indonesia, profesi barista sangat dibutuhkan. Maka PKBM Putra Bangsa terpanggil untuk memberi keahlian warga belajar atau masyarakat dalam dunia barista, agar nanti bisa bekerja dan mandiri.

“Saya hanya menangkap peluang, dan berusaha memberi keterampilan bagi anak-anak produktif untuk mendapatkan keahlian barista, agar mereka bisa bekerja atau mandiri dengan membuka kedai sendiri,” papar Tuslihah kepada Warta PAUD dan Dikmas.

Menurut perempuan kelahiran Pemalang, 21 Oktober 1981 itu, pelatihan barista di PKBM Putra Bangsa baru berjalan sekitar dua tahun ini. Untuk diketahui, Pusat pendidikan masyarakat ini berdiri pada 2005 di Desa Kandang RT 14/RW03 Kecamatan Comal. Lebih sepuluh tahun berdiri, kegiatan dan programnya kian beragam, mulai dari pendidikan anak usia dini, pelatihan keterampilan dan kursus bagi masyarakat, khususnya warga Pemalang.

“Sejak mendirikan PKBM, saya terpanggil untuk berbuat yang terbaik untuk masyarakat. Terutama orang tidak mampu dan putus sekolah. Mulai memberikan pendidikan kesetaraan paket A, B dan C, hingga pelatihan keahlian (life skill) bagi warga dari membatik, menjahit hingga otomotif,” ujar Tuslihah.

Menurut Tuslihah, PKBM sebagai pendidikan nonformal harus selalu berinovasi dan mengikuti kebutuhan jaman. Sehingga, PKBM yang digawanginya pun selalu mengikuti keahlian atau profesi yang dibutuhkan masyarakat. Hal ini didasari agar semua keterampilan dan keahlian yang diberikan kepada warga belajar menjadi bermanfaat bagi kehidupannya kelak. Berbagai program dan pelatihan pun diselenggarakan PKBM Putra Bangsa. Dari menjahit, baby sitter, hantaran, tata boga, komputer, otomotif, dan setir mobil. Bahkan, sejak tahun 2010 berkembang dengan adanya pendidikan kesetaraan, pendidikan anak usia dini (PAUD), dan Keaksaraan. Kini membuka pelatihan barista.

“PKBM itu harus inovatif, agar tidak dimakan jaman. Begitu pula pelatihan yang diberikan kepada warga belajar, kami ikuti tren dan perkembangan jaman. Kami fasilitasi masyarakat, khususnya remaja atau usia produktif untuk mandiri dengan pelatihan keterampilan dan keahlian seperti barista ini,” ujar ibu dari tiga putri ini.

Menempati gedung di areal seluas ±580 meter persegi, PKBM ini mendapat dukungan positif dari pemerintah daerah dan masyarakat. Program pelatihan barista pun mendapan sokongan dari berbagai lembaga, salah satunya balai latihan kerja. Sehingga mendapat biaya pelatihan untuk 1000 orang dilatih menjadi barista.

“Alhamdulillah gayung bersambut. PKBM kami mendapat dukungan dan dana untuk pelatihan barista sebanyak 1000 orang selama satu tahun ini,” ujar Tuslihah yang mengaku awalnya tidak senang kopi. Namun kini ia menjadi penggemar kopi juga menjadi seorang barista.

Menurut istri dari Rendro Wijoyo, untuk jadi seorang barista sebenarnya tidak membutuhkan latar pendidikan yang sesuai. Semua butuh proses, pengalaman dan jam terbang dalam bekerja penting untuk menjadi seorang barista. Namun setidaknya perlu mengikuti pelatihan dasar yang berkaitan dengan pekerjaan barista. Baik itu tata pelayanan, penggunaan peralatan, sampai informasi mendalam mengenai kopi.

 

“Menjadi barista itu siapa pun bisa, tidak melihat lulusan apa. Karenanya, ini sesuai dengan visi kami, memberi keterampilan yang bermanfaat bagi warga belajar agar kelak mandiri,” ungkap perempuan lulusan Universitas Wijayakusuma, 2011.

Secara harfiah, barista merupakan orang yang bekerja di balik meja untuk melayani dan meracik kopi serta minuman lain baik panas atau dingin. Sebagai barista, aktivitas kerjanya akan berfokus pada layanan ke pelanggan secara langsung. Seperti menerima pesanan, membuat bermacam minuman, melayani, hingga menjadi kasir. Seorang barista dituntut untuk multitasking, cepat dan tepat dalam melayani pelanggan. Bahkan taidk menutup kemungkinan, seorang barista membersihkan toko dan peralatan lainnya.

“Semua orang bisa jadi barista jika mau. Tapi mau saja tak sekedar cukup, tetapi harus punya passion agar mampu menjadi sebenar-benarnya barista yang handal. Yang terpenting adalah passion, niat dan semangatnya. Karena buat apa sekolah yang keren jika tidak memiliki keinginan yang keras,” ujar perempuan mandiri ini.

Selain keahlian meracik kopi, kata Tuslihah, seorang barista harus kenal dulu dengan kopi yang menjadi titik inti dari dunia kebaristaan ini. Mulai dari jenis kopi, proses kopi, hingga aneka menu kopi yang merupakan sajian akhir dari perjalanan panjang kopi. Tuslihah menegaskan, profesi barista tidak hanya bertugas untuk membuat dan menyajikan kopi semata, namun seorang barista juga berperan dalam memperkenalkan kopi-kopi terbaik dunia kepada masyarakat.

“Profesi barista itu enggak sesimple bikin kopi, tetapi kita (barista) men-showcase kopi terbaik dunia. Jadi dalam materi pelatihan kita isi dulu pengetahuan peserta didik soal kopi dan tetek-bengeknya. Mereka bisa menceritakan kopinya, experience tentang kopinya.  Itu akan memberi nilai lebih," papar Tuslihah, yang membuka kedai kopi untuk tempat pelatihan dan magang peserta didiknya di sekretariat PKBM Putra Bangsa, Desa Kandang RT 14/RW03 Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah.

Juara 1 Pengelola PKBM Tingkat Propinsi Jawa Tengah tahun 2015 ini mengatakan, kualitas barista Indonesia masih perlu ditingkatkan, agar Indonesia tidak hanya dikenal sebagai salah satu penghasil kopi terbesar tetapi juga memiliki barista-barista handal.

"Barista itu penting, karena barista itu ujung tombak kopi, karena kopi itu bisa jadi enggak enak, karena barista waktu roasting (kopi) enggak sempurna, jadi enggak enak. Kalau baristanya terampil, berpengetahuan, kopinya pasti akan enak," pungkas Tuslihah.(****)

Semua Berita